Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Juli 2010

7 Alasan SMK Bisa

Masih ingat Mukhlis dan Yono?

Dua orang siswa SMK TI itu sekarang sudah kembali ke bangku sekolahnya. Harusnya sih minggu ini adalah minggu terakhir mereka untuk menikmati atmosfer Jogja. Tapi berhubung mereka sudah harus masuk sekolah pada tanggal 6 April yang lalu, maka rencana yang mereka susun untuk jalan-jalan di akhir masa menikmati kawah candradimuka pun terpaksa harus dibatalkan.

Kasihan. Rayuan pulau kelapa mereka rupanya hanya berhasil pada cewek, bukan pada guru. Hehehe…

Pada tanggal 5 – 6 Mei 2009 nanti, tempat belajar Mukhlis dan Yono, SMK Informatika Utama, akan mengadakan creative sharing bertajuk Entrepreneurship for SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). Menurut rencana, kami diundang turun tahta sebagai pembagi pengalaman.

Sebagai pemanasan, berikut ini 7 alasan kenapa lulusan SMK bisa jadi pengusaha.

7 Alasan Kenapa Lulusan SMK Bisa Jadi Pengusaha

SMK Keren

Lulus SMK jadi karyawan? Sudah biasa. Lulus SMK jadi pengusaha? Kerennnn…

Ketrampilan Lulusan SMK

Lulusan SMK itu punya ketrampilan dan keahlian lebih. Buktinya, mereka selalu jadi incaran pengusaha.

Busa Kuliah Sambil Kerja

Bisa kuliah, bisa juga (sambil) kerja. Ndak percaya? Tommy, keponakan adik angkat saya, bisa mbengkel dan juga kuliah dalam waktu yang bersamaan di Surabaya sana.

Jadi Pengusana Bukan Cuman Hak Sarjana

Jadi Pengusaha itu hak setiap orang, bukan cuman hak sarjana saja. Survei membuktikan bahwa 93% pengusaha itu bukan sarjana (lupa sumbernya!).

Membantu Pemerintah Kurangi Pengangguran

Tidak usah jadi caleg untuk berbuat sesuatu bagi negara. Jadi pengusaha saja sudah membantu pemerintah kurangi pengangguran.

Dikejar Mbak-Mbak

Sukses itu anugrah. Begitu pula jika jadi pengusaha sukses yang nasibnya dikejar Mbak-Mbak/Mas-Mas.

Berbakti Pada Orang Tua

Anak yang baik itu tidak lupa pada akarnya. Betul?

Thank You

Picture Credit

Cukup 7 alasan saja? Tambahkan sendiri jika mau.. masih banyak alasan bagi orang kreatif!

Nah sekarang, bekal apa aja yang harus diberikan dan disiapkan bagi para lulusan SMK itu jika mereka pengen jadi pengusaha? Monggo berbagi…

*bagi rekan-rekan siswa dan guru SMKI Depok, mohon masukannya jika ada materi yang ingin dimasukkan dalam acara creative sharing nanti..

Sumber Articel : http://yainal.web.id

Minggu, 06 Juni 2010

2.193 Pelajar Samarinda Tidak Lulus

SAMARINDA. Jumlah pelajar yang tak lulus Ujian Akhir Nasional (Unas) di Kota Samarinda, benar-benar mencengangkan. Tercatat ada 2.193 pelajar yang harus mengikuti ujian susulan dari 8.053 peserta Unas.

Di Samarinda Ilir saja misalnya. Ada 216 pelajar tidak lulus, dari jumlah 1.618 peserta Unas yang berasal dari 14 SMA/MA dan SMK.

Jumlah pelajar yang tidak lulus terbanyak ada di SMA 11, Pelita 4, Sambutan. Di sana, dari 159 peserta Unas, 87 diantaranya tak lulus dan harus mengulang Ujian Nasional (Unas) susulan 10 Mei mendatang.

Bahkan, angka ketidak lulusan terparah terjadi di SMA Alkhairiyah, Jl Abul Hasan. Dari 30 peserta yang ikut ujian, tak satu pun pelajar yang dinyatakan lulus.

Berbeda di 2 sekolah lainnya, yaitu di SMA Sunodia, Jl Kartini dan SMK Farmasi, Jl P Hidayatullah. Dari 2 sekolah tersebut, 177 pelajar yang mengikuti Unas, semuanya dinyatakan lulus. Itu berarti, angka kelulusan didua sekolah tersebut mencapai 100 persen.

Kebanyakan dari mereka yang tidak lulus, kebanyakan jatuh di mata pelaharan Bahasan Indonesia. Meski ada juga yang memperoleh nilai rendah di mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika. Dan untuk jurusan IPA, mata pelajaran Fisika maupun Kimia, juga menjadi faktor yang membuat peserta Unas tak lulus.

"Jangankan kami yang pelajar, guru pembimbing saja mengatakan mengalami kesulitan untuk menjawab pertanyaan di soal. Soal ujian yang waktu itu diujikan bagi kami benar-benar berat," keluh Daryati, pelajar SMA 11.

Sementara itu, menurunnya tingkat kelulusan juga terjadi di salah satu sekolah unggulan di SMAN 2 Samarinda. Jika pada tahun lalu sekolah ini meluluskan semua pelajarnya, tidak untuk tahun ini. Plh Kepala SMAN 2 Samarinda H Sarifuddin mengatakan, dari 260 pelajar kelas 3 yang mengikuti Unas pada awal Maret lalu ,34 diantaranya dinyatakan tidak lulus.

"Dari 34 pelajar yang tidak lulus, semua merata dari jurusan yang ada di SMAN 2. Tidak hanya dari program IPS, tetapi juga dari program bahasa dan IPA," ujar Sarifuddin.

Ia mengatakan, menurunya tingkat kelulusan tersebut bukan karena kualitas pelajar yang menurun apalagi kondisi bangunan sekolah yang belum rampung. "Tidak ada penurunan kualitas. Karena penurunan tingkat kelulusan pelajar SMA pada tahun ini terjadi secara nasional. Apalagi di Samarinda tingkat kelulusannya juga menurun drastis," tambahnya (http://www.sapos.co.id/berita/index.asp?IDKategori=279&id=6796)

Penganguran Meningkat

SAMARINDA. Angka pengangguran di Kaltim akan terus meningkat, itu terjadi bila pemerintah tak segera mempersiapkan langkah jitu untuk mengantisipasinya. Salah satunya adalah dengan membuka lapangan pekerjaan baru atau menyiapkan tenaga kerja yang terampil sehingga diharapkan bisa berpotensi pada pembukaan lapangan pekerjaan baru.

Untuk tahun 2009 saja, jumlah pengangguran di Kaltim mencapai 158.224 atau sekitar 10,83 persen, padahal perkiraan awalnya hanya 139.830 atau sekitar 9,8 persen. Untuk tahun 2010 ini, menurut Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Kaltim Ir Putut Pranomo, kemungkinan untuk meningkat semakin terbuka, apalagi bila pemerintah tak benar-benar serius mengantisipasinya.

Dari proyeksi atau perkiraan, untuk jumlah pengangguran di tahun 2010 diharapkan akan menurun, hanya 10,46 persen saja atau menurun beberapa persen dari realisi jumlah pengangguran di tahun 2009 lalu. Pemerintah kabupaten dan kota masing-masing harus memberikan perhatian lebih.

Untuk daerah yang mempunyai pengangguran paling tinggi adalah Kutai Timur yang mencapai 14,59 persen atau sekitar 2.169 jiwa dari jumlah penduduk yang hanya 71.218 jiwa. Kemudian disusul Tana Tidung dengan 13,89 persen, lalu Balikpapan dengan persentase dibandingkan jumlah penduduk mencapai 13,70 persen, sementara Samarinda menempati posisi keempat setelah Balikpapan dengan persentase jumlah pengangguran mencapai 13,70 persen.

Menurutnya, usaha untuk menekan jumlah pengangguran di Kaltim tidak mudah, perlu ada usaha yang jelas dan nyata, sehingga benar-benar menurun, bahkan diharapkan bisa mencapai 9,95 persen seperti yang ditargetkan oleh Disnaker Kaltim. Upaya itu misalnya dengan menggiatkan kembali peran serta dari Balai Latihan Kerja (BLK) yang ada di Kaltim.

Untuk BLK pun menurutnya, pemerintah daerah belum mempunyai perhatian yang khusus, padahal itu sangat diperlukan. Misalnya, dari 13 kabupaten dan kota yang ada di Kaltim, baru 5 daerah yang memiliki BLK, yakni Samarinda, Balikpapan, Tarakan, Nunukan dan Bontang. Sementara untuk BLK di Kota Bontang pun hingga saat belum bisa beroperasi, walaupun bangunannya sudah berdiri.

Hal lain yang menurut Putut menyebabkan jumlah pengangguran meningkat adalah karena angkatan kerja yang ada tidak mempunyai skill yang memadai seperti yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Ini menjadi pekerjaan yang berat pemerintah, tetapi tidak hanya pemerintah juga masyarakat dan dunia pendidikan.

Dunia pendidikan, misalnya SMK atau Universitas juga harus mampu membuat sebuah jurusan yang sesuai dengan kondisi dunia kerja. Banyak jurusan di Universitas dan SMK yang masih tak sesuai dengan kebutuhan kerja. Sehingga, ketika lulusannya keluar tak siap kerja dan bersaing dengan dunia kerja, akhirnya tersingkir dan menjadi pengangguran baru. Ini menurutnya sangatlah ironis.

Sumber Article : Sapos Samarinda

Menko Kesra Pebanyak SMK

JAKARTA (Suara Karya): Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) HR Agung Laksono menilai perlunya sekolah menengah kejuruan (SMK), terutama bidang kelautan, perikanan dan pariwisata untuk para siswa di daerah kepulauan seperti Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu. Keberadaan sekolah tersebut penting untuk memaksimalkan sumber alam yang ada.

"Lewat SMK, para siswa bisa mendapat keterampilan yang sesuai dengan sumber daya alam yang ada, dengan menggunakan teknologi sehingga hasilnya akan lebih baik," kata Agung Laksono saat menyaksikan langsung pelaksanaan ujian nasional (UN) tingkat SMP di SMP Negeri 133, Pulau Pramuka, Kabupaten Administratif Pulau Seribu, Jakarta, Kamis (1/3).

Pada kesempatan itu, Agung didampingi Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh, dan Menteri Sosial (Mensos), Salim Segaf Al-Jufrie dan Bupati Kepulauan Seribu, Burhanuddin dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto.

Agung menambahkan, pendidikan yang menekankan pada keterampilan sangat penting agar siswa mampu bertahan di lingkungan yang terasing seperti di Kepulauan Seribu. Dengan demikian, siswa dapat memanfaatkan sumber daya alam dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, agar hasilnya bisa lebih baik lagi.

"Dalam rakor kesra akan kita bahas untuk peningkatan pendidikan di Pulau Seribu," ucap Agung seraya memuji kondisi SMP Negeri 133 yang terlihat apik.

Kesempatan itu dimanfaatkan para guru, terutama para guru hononer untuk menumpahkan curahan hatinya. Seperti dikemukakan Nurhasanah, honor mereka yang hanya Rp 600 ribu per bulan tak pernah dibayarkan secara rutin setiap bulannya, melainkan setiap 4 bulan sekali. Padahal, kehidupan di pulau tidaklah murah.

"Saat ini ada lebih kurang 300 guru honorer di Kepulauan Seribu yang sudah bekerja tahunan tetapi belum diangkat dengan kondisi kesejahteraan yang relatif kecil. Jika ada peluang menjadi pegawai negeri sipil (PNS) diberikan kepada kami," katanya.

Menanggapi keluhan guru tersebut, Mendiknas mengatakan, pengangkatan guru honorer menjadi tugas pemerintah daerah. Untuk itu, Mendiknas berharap pemerintah daerah segera merampungkan persoalan yang menjadi kendala untuk pengangkatan sebagai PNS.

"Pemerintah pusat bersama komisi terkait yakni Komisi II dan Komisi X DPR RI berupaya merampungkan masalah pengangkatan guru sesuai prosedur," kata Nuh.

Mohammad Nuh menambahkan, pihaknya bersama Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Kementerian Dalam Negeri ingin memberi batas waktu pengangkatan guru honorer itu agar tidak menimbulkan keresahan di kalangan guru.

Pada kesempatan itu, Mendiknas, Mohammad Nuh memberikan beasiswa Rp 275 juta bagi 500 siswa miskin bagi jenjang SMP di Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Masing-masing siswa mendapatkan beasiswa sebanyak Rp 550 ribu per tahun.

Beasiswa tersebut merupakan dana bantuan bagi orang miskin, yakni masyarakat pulau terluar, daerah perbatasan, dan anak-anak nelayan.

Ia mengharapkan dengan adanya bantuan beasiswa langsung di luar dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang otomatis diterima siswa, maka tidak ada siswa putus sekolah di wilayah kepulauan tersebut.

"Mudah-mudahan dengan beasiswa adik-adik semakin semangat. Tidak ada kata putus di dalam sekolah," ujar Nuh.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto mengatakan, UN SMP di Kabupaten Kepulauan Seribu diikuti sebanyak lima SMP negeri, dua SMP Satu Atap, dan satu MTs. Jumlah peserta yang mengikuti UN sebanyak 398 peserta. "Tahun lalu kelulusan siswa di Kepulauan Seribu 100 persen," katanya menandaskan.

Sumber Article : SUARA KARYA ONLINE

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes