Minggu, 06 Juni 2010

Tuan Rumah Temu Budaya 2011


Pihak Provinsi Kaltim yang menjadi tuan rumah Temu Budaya Nasional pada 2011 mengaku sampai kini belum melakukan persiapan khusus mengenai event nasional tersebut, namun ternyata sudah banyak menerima tamu-tamu dari berbagai daerah terkait rencana kegiatan itu.

Samarinda, 14/4 (Entertainment Roll) - Pihak Provinsi Kaltim yang menjadi tuan rumah Temu Budaya Nasional pada 2011 mengaku sampai kini belum melakukan persiapan khusus mengenai event nasional tersebut, namun ternyata sudah banyak menerima tamu-tamu dari berbagai daerah terkait rencana kegiatan itu.

"Kami belum melakukan persiapan khusus selaku tuan rumah pada event nasional itu mengingat waktu pelaksaannya masih dua tahun lagi, namun ternyata sudah banyak tamu-tamu yang datang terkait rencana kegiatan nasional ini," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Budaya Kaltim, Sutoro T, di Samarinda, Selasa.

Ia menjelaskan kedatangan sejumlah tamu dari berbagai daerah di Indonesia terkait agenda tersebut dengan beragam alasan, ada yang bertujuan melihat kondisi daerah yang ditunjuk sebagai tuan rumah, menanyakan kesenian yang menonjol di Kaltim, atau delegasi dari beberapa provinsi yang hanya ingin melihat perbandingan budaya antardaerah.

"Bagi kami sebagai tuan rumah, kunjungan tamu-tamu dari berbagai daerah ini sangat bernilai dan kami sangat menghargainya, mengingat hal itu sebagai bentuk apresiasi terhadap event ini, mengingat waktu pelaksaan masih lama, yakni sekitar dua tahun lagi," papar dia.

Ia memaparkan bahwa agenda pada event tersebut antara lain rapat koordinasi para kepala taman budaya se- Indonesia, pameran budaya khas daerah, dan menyiapkan galeri untuk seni rupa yang meliputi patung, seni lukis dan seni pahat.

"Untuk galeri, kami sudah memilikinya, yakni ruang yang berada di sebelah kanan Gedung Utama Taman Budaya. Sekarang ruang itu sudah mulai kami rapikan. Dulu, ruang itu digunakan sebagai latihan tari dan musik. Saat ini untuk tempat latihan kami pindahkan ke gedung utama dan tempat lain yang cocok," katanya menerangkan.

Pihak tuan rumah pada acara itu, nantinya akan menyuguhkan berbagai atraksi seni daerah khas Kaltim, baik teater, musik tradisional tingkilan, serta beragam tarian dari berbagai sub-etnis Dayak serta dari Suku Melayu di Kaltim.

"Berbagai kesenian yang nantinya tampil tidak melulu peragaan kesenian tradisional, namun bisa seni hasil kolaborasi atau seni khas budaya setempat. Hasil kolaborasi itu, antara lain seni kreasi, tradisi kreasi atau kesenian hasil budaya daerah murni," katanya.

Hanya yang paling penting dijaga, katanya, adalah tempo peragaan kesenian yang seharusnya dibuat lebih padat karena melihat jumlah peserta begitu banyak sehingga terikat dengan waktu pertunjukan yang singkat.

"Konsekuensinya apabila waktu tidak kita batasi pada setiap atraksi, maka beberapa mata acara akan mengalami penundaan, atau beberapa aktraksi terpaksa tidak ditampilkan, persoalan itu nantinya kita khawatirkan menimbulkan masalah karena ada daerah yang melakukan protes akibat mereka tidak bisa tampil," imbuh dia.

"Bagi tuan rumah Kaltim, event ini membawa arti strategis bagi pengembangan budaya daerah, paling tidak memacu bagi seniman di daerah untuk meningkatkan kemampuannya, setelah melihat berbagai atraksi seniman dari seluruh wilayah Indonesia," katanya.

Ia menuturkan bahwa Kaltim yang tercatat sebagai provinsi terluas nasional itu, memiliki kesenian dan kebudayaan yang beragam, namun secara garis besar terbagi tiga, yakni kesenian pedalaman (Dayak), kesenian pesisir (masyarakat pantai/Melayu) serta kesenian yang hidup di keraton.

Kesenian yang hidup di keraton juga beragam karena di Kaltim dulunya hidup empat kesultanan besar, yakni Kesultanan Kutai, Kesultanan Berau, Kesultanan Bulungan dan Kesultanan Paser.

Sedangkan pada masyarakat pedalaman, yakni Suku Dayak sendiri terbagi atas belasan sub-etnis (anak suku) yang memiliki keberagaman budaya.

"Status sebagai tuan rumah juga sangat menguntungkan karena kebudayaan Kaltim akan kian dikenal, mengingat seluruh seniman di tanah air akan ambil bagian pada event ini," ujar dia.

Taman Budaya sebelumnya berada di bawah naungan Dinas Pendidikan Kaltim namun sejak 29 Februari 2009, berubah menjadi UPTD yang menjadi bagian dari Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim.

"Dengan status baru ini, maka pengelolaan Taman Budaya agak lebih luas karena bukan sekedar untuk melestarikan budaya lokal namun juga untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata, apalagi Kaltim sudah mencanangkan program Tahun Wisata Kaltim 2010," katanya.

Sumber Article Berasal Dari :www.entertainment.id.finroll.com

Cara Reset Manual Printer Canon Mp 140

Tahap pertama (Reset Hardware)
Matikan printer, dan cabut kabel powernya.
Tekan tekan dan tahan tombol power (gunakan jari telunjuk untuk menekannya).
Pasang kembali kabel power.
Gunakan ibu jari untuk menekan tombol resume sebanyak 2(dua) kali.( "ketika anda menekan tombol resume tombol power tetap harus anda tekan dan masih ditahan")
Lepas jari anda pada tombol power, dan
Tahap pertama udah selesai.
Tahap kedua (Reset Seoftware)
Download sofware reseter printer, anda dapat mendownloadnya disini.
Ekstrak file tersebut.
Pastikan atribut file tersebut bebas dari read-only, caranya pilih semua file (Ctrl+A) klik kanan dan pilih properties > matikan/unchek pada read-only.
Jalankan ipTool.exe
pada usb port pilih jenis printer yang anda pakai, biasanya kalu anda cuma memakai satu printer tidak perlu lagi, kerena program sudah mendeteksinya, karena tidak ada pilihan lagi he,he
pilih/ centang pada EEPROM CLEAR.
sediakan kertas kosong untuk memprint, kemudian klik tombol TES PATTREN 1.
tahap kedua sudah selesai.

Sumber : www.Elrahma-samarinda.com

2.193 Pelajar Samarinda Tidak Lulus

SAMARINDA. Jumlah pelajar yang tak lulus Ujian Akhir Nasional (Unas) di Kota Samarinda, benar-benar mencengangkan. Tercatat ada 2.193 pelajar yang harus mengikuti ujian susulan dari 8.053 peserta Unas.

Di Samarinda Ilir saja misalnya. Ada 216 pelajar tidak lulus, dari jumlah 1.618 peserta Unas yang berasal dari 14 SMA/MA dan SMK.

Jumlah pelajar yang tidak lulus terbanyak ada di SMA 11, Pelita 4, Sambutan. Di sana, dari 159 peserta Unas, 87 diantaranya tak lulus dan harus mengulang Ujian Nasional (Unas) susulan 10 Mei mendatang.

Bahkan, angka ketidak lulusan terparah terjadi di SMA Alkhairiyah, Jl Abul Hasan. Dari 30 peserta yang ikut ujian, tak satu pun pelajar yang dinyatakan lulus.

Berbeda di 2 sekolah lainnya, yaitu di SMA Sunodia, Jl Kartini dan SMK Farmasi, Jl P Hidayatullah. Dari 2 sekolah tersebut, 177 pelajar yang mengikuti Unas, semuanya dinyatakan lulus. Itu berarti, angka kelulusan didua sekolah tersebut mencapai 100 persen.

Kebanyakan dari mereka yang tidak lulus, kebanyakan jatuh di mata pelaharan Bahasan Indonesia. Meski ada juga yang memperoleh nilai rendah di mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika. Dan untuk jurusan IPA, mata pelajaran Fisika maupun Kimia, juga menjadi faktor yang membuat peserta Unas tak lulus.

"Jangankan kami yang pelajar, guru pembimbing saja mengatakan mengalami kesulitan untuk menjawab pertanyaan di soal. Soal ujian yang waktu itu diujikan bagi kami benar-benar berat," keluh Daryati, pelajar SMA 11.

Sementara itu, menurunnya tingkat kelulusan juga terjadi di salah satu sekolah unggulan di SMAN 2 Samarinda. Jika pada tahun lalu sekolah ini meluluskan semua pelajarnya, tidak untuk tahun ini. Plh Kepala SMAN 2 Samarinda H Sarifuddin mengatakan, dari 260 pelajar kelas 3 yang mengikuti Unas pada awal Maret lalu ,34 diantaranya dinyatakan tidak lulus.

"Dari 34 pelajar yang tidak lulus, semua merata dari jurusan yang ada di SMAN 2. Tidak hanya dari program IPS, tetapi juga dari program bahasa dan IPA," ujar Sarifuddin.

Ia mengatakan, menurunya tingkat kelulusan tersebut bukan karena kualitas pelajar yang menurun apalagi kondisi bangunan sekolah yang belum rampung. "Tidak ada penurunan kualitas. Karena penurunan tingkat kelulusan pelajar SMA pada tahun ini terjadi secara nasional. Apalagi di Samarinda tingkat kelulusannya juga menurun drastis," tambahnya (http://www.sapos.co.id/berita/index.asp?IDKategori=279&id=6796)

Penganguran Meningkat

SAMARINDA. Angka pengangguran di Kaltim akan terus meningkat, itu terjadi bila pemerintah tak segera mempersiapkan langkah jitu untuk mengantisipasinya. Salah satunya adalah dengan membuka lapangan pekerjaan baru atau menyiapkan tenaga kerja yang terampil sehingga diharapkan bisa berpotensi pada pembukaan lapangan pekerjaan baru.

Untuk tahun 2009 saja, jumlah pengangguran di Kaltim mencapai 158.224 atau sekitar 10,83 persen, padahal perkiraan awalnya hanya 139.830 atau sekitar 9,8 persen. Untuk tahun 2010 ini, menurut Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Kaltim Ir Putut Pranomo, kemungkinan untuk meningkat semakin terbuka, apalagi bila pemerintah tak benar-benar serius mengantisipasinya.

Dari proyeksi atau perkiraan, untuk jumlah pengangguran di tahun 2010 diharapkan akan menurun, hanya 10,46 persen saja atau menurun beberapa persen dari realisi jumlah pengangguran di tahun 2009 lalu. Pemerintah kabupaten dan kota masing-masing harus memberikan perhatian lebih.

Untuk daerah yang mempunyai pengangguran paling tinggi adalah Kutai Timur yang mencapai 14,59 persen atau sekitar 2.169 jiwa dari jumlah penduduk yang hanya 71.218 jiwa. Kemudian disusul Tana Tidung dengan 13,89 persen, lalu Balikpapan dengan persentase dibandingkan jumlah penduduk mencapai 13,70 persen, sementara Samarinda menempati posisi keempat setelah Balikpapan dengan persentase jumlah pengangguran mencapai 13,70 persen.

Menurutnya, usaha untuk menekan jumlah pengangguran di Kaltim tidak mudah, perlu ada usaha yang jelas dan nyata, sehingga benar-benar menurun, bahkan diharapkan bisa mencapai 9,95 persen seperti yang ditargetkan oleh Disnaker Kaltim. Upaya itu misalnya dengan menggiatkan kembali peran serta dari Balai Latihan Kerja (BLK) yang ada di Kaltim.

Untuk BLK pun menurutnya, pemerintah daerah belum mempunyai perhatian yang khusus, padahal itu sangat diperlukan. Misalnya, dari 13 kabupaten dan kota yang ada di Kaltim, baru 5 daerah yang memiliki BLK, yakni Samarinda, Balikpapan, Tarakan, Nunukan dan Bontang. Sementara untuk BLK di Kota Bontang pun hingga saat belum bisa beroperasi, walaupun bangunannya sudah berdiri.

Hal lain yang menurut Putut menyebabkan jumlah pengangguran meningkat adalah karena angkatan kerja yang ada tidak mempunyai skill yang memadai seperti yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Ini menjadi pekerjaan yang berat pemerintah, tetapi tidak hanya pemerintah juga masyarakat dan dunia pendidikan.

Dunia pendidikan, misalnya SMK atau Universitas juga harus mampu membuat sebuah jurusan yang sesuai dengan kondisi dunia kerja. Banyak jurusan di Universitas dan SMK yang masih tak sesuai dengan kebutuhan kerja. Sehingga, ketika lulusannya keluar tak siap kerja dan bersaing dengan dunia kerja, akhirnya tersingkir dan menjadi pengangguran baru. Ini menurutnya sangatlah ironis.

Sumber Article : Sapos Samarinda

Menko Kesra Pebanyak SMK

JAKARTA (Suara Karya): Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) HR Agung Laksono menilai perlunya sekolah menengah kejuruan (SMK), terutama bidang kelautan, perikanan dan pariwisata untuk para siswa di daerah kepulauan seperti Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu. Keberadaan sekolah tersebut penting untuk memaksimalkan sumber alam yang ada.

"Lewat SMK, para siswa bisa mendapat keterampilan yang sesuai dengan sumber daya alam yang ada, dengan menggunakan teknologi sehingga hasilnya akan lebih baik," kata Agung Laksono saat menyaksikan langsung pelaksanaan ujian nasional (UN) tingkat SMP di SMP Negeri 133, Pulau Pramuka, Kabupaten Administratif Pulau Seribu, Jakarta, Kamis (1/3).

Pada kesempatan itu, Agung didampingi Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh, dan Menteri Sosial (Mensos), Salim Segaf Al-Jufrie dan Bupati Kepulauan Seribu, Burhanuddin dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto.

Agung menambahkan, pendidikan yang menekankan pada keterampilan sangat penting agar siswa mampu bertahan di lingkungan yang terasing seperti di Kepulauan Seribu. Dengan demikian, siswa dapat memanfaatkan sumber daya alam dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, agar hasilnya bisa lebih baik lagi.

"Dalam rakor kesra akan kita bahas untuk peningkatan pendidikan di Pulau Seribu," ucap Agung seraya memuji kondisi SMP Negeri 133 yang terlihat apik.

Kesempatan itu dimanfaatkan para guru, terutama para guru hononer untuk menumpahkan curahan hatinya. Seperti dikemukakan Nurhasanah, honor mereka yang hanya Rp 600 ribu per bulan tak pernah dibayarkan secara rutin setiap bulannya, melainkan setiap 4 bulan sekali. Padahal, kehidupan di pulau tidaklah murah.

"Saat ini ada lebih kurang 300 guru honorer di Kepulauan Seribu yang sudah bekerja tahunan tetapi belum diangkat dengan kondisi kesejahteraan yang relatif kecil. Jika ada peluang menjadi pegawai negeri sipil (PNS) diberikan kepada kami," katanya.

Menanggapi keluhan guru tersebut, Mendiknas mengatakan, pengangkatan guru honorer menjadi tugas pemerintah daerah. Untuk itu, Mendiknas berharap pemerintah daerah segera merampungkan persoalan yang menjadi kendala untuk pengangkatan sebagai PNS.

"Pemerintah pusat bersama komisi terkait yakni Komisi II dan Komisi X DPR RI berupaya merampungkan masalah pengangkatan guru sesuai prosedur," kata Nuh.

Mohammad Nuh menambahkan, pihaknya bersama Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Kementerian Dalam Negeri ingin memberi batas waktu pengangkatan guru honorer itu agar tidak menimbulkan keresahan di kalangan guru.

Pada kesempatan itu, Mendiknas, Mohammad Nuh memberikan beasiswa Rp 275 juta bagi 500 siswa miskin bagi jenjang SMP di Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Masing-masing siswa mendapatkan beasiswa sebanyak Rp 550 ribu per tahun.

Beasiswa tersebut merupakan dana bantuan bagi orang miskin, yakni masyarakat pulau terluar, daerah perbatasan, dan anak-anak nelayan.

Ia mengharapkan dengan adanya bantuan beasiswa langsung di luar dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang otomatis diterima siswa, maka tidak ada siswa putus sekolah di wilayah kepulauan tersebut.

"Mudah-mudahan dengan beasiswa adik-adik semakin semangat. Tidak ada kata putus di dalam sekolah," ujar Nuh.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto mengatakan, UN SMP di Kabupaten Kepulauan Seribu diikuti sebanyak lima SMP negeri, dua SMP Satu Atap, dan satu MTs. Jumlah peserta yang mengikuti UN sebanyak 398 peserta. "Tahun lalu kelulusan siswa di Kepulauan Seribu 100 persen," katanya menandaskan.

Sumber Article : SUARA KARYA ONLINE

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes